Minggu, 25 Agustus 2013

Observasi Lingkungan Sekitar Jalan Cimbuleuit

Wawancara dengan Pak Darwan, penjual es kelapa di pinggir jalan Cimbuleuit.




Q:           Pak, gimana sih caranya buat izin jualan di pinggir jalan seperti Bapak?
A:            Oh kalau saya sebagai tuan rumah di sini.
Q:           Jadi, kalau ada yang ingin berjualan di pinggir jalan, minta izinnya ke tuan rumahnya?
A:            Di sini terlalu sempit untuk tempat berjualan. Tetapi memang banyak orang-orang luar yang mengontrak untuk berjualan, seperti jualan nasi goreng.
Q:           Menurut Bapak, angkot di sini tertib nggak?
A:            Oh, tertib. Angkot di sini dari jam 3 pagi sampai jam 6. Kalau lebih dari itu tidak boleh.
Q:           Apakah Bapak merasa risih bila ada angkot yang ngetem di pinggir jalan?
A:            Oh, enggak.
Q:           Memang sudah biasanya begitu ya, Pak?
A:            Iya. Lagipula nggak pernah sampai bikin macet. Kecuali hari Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Q:           Bagaimana hawa di jalan Cimbuleuit ini, Pak?
A:            Pas, lah. Nggak terlalu dingin tapi nggak terlalu panas juga.
Q:           Apakah penambahan pohon di sekitar sini perlu?
A:            Jelas. Kalau seperti sekarang ini masih panas.
Q:           Apa harapan Bapak ke pemda Bandung untuk jalanan di Cimbuleuit ini?
A:            Kalau bisa sih diperlebar sekitar dua meter. Biar nggak tambah macet.
Q:           Apa ada perbedaan jalan cimbeleuyit sekarang dan lima tahun lalu, Pak?
A:            Sekarang panas. Macetnya pun jauh lebih parah. Dulu mah nggak separah ini.
Q:           Menurut Bapak, bagaimana jadinya Bandung di bawah pimpinan gubernur sekarang, Pak Ridwan Kamil?
A:            Karena masih baru, jadi belum terlihat. Tapi sekarang lumayan lah.
Q:           Menurut Bapak, apakah Pak Ridwan Kamil punya potensi besar buat mengubah kota Bandung?
A:            Iya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar