Wawancara dengan Pak Darwan, penjual es kelapa di pinggir jalan Cimbuleuit.
Q: Pak,
gimana sih caranya buat izin jualan di pinggir jalan seperti Bapak?
A: Oh kalau
saya sebagai tuan rumah di sini.
Q: Jadi,
kalau ada yang ingin berjualan di pinggir jalan, minta izinnya ke tuan
rumahnya?
A: Di sini
terlalu sempit untuk tempat berjualan. Tetapi memang banyak orang-orang luar
yang mengontrak untuk berjualan, seperti jualan nasi goreng.
Q: Menurut
Bapak, angkot di sini tertib nggak?
A: Oh,
tertib. Angkot di sini dari jam 3 pagi sampai jam 6. Kalau lebih dari itu tidak
boleh.
Q: Apakah
Bapak merasa risih bila ada angkot yang ngetem di pinggir jalan?
A: Oh,
enggak.
Q: Memang
sudah biasanya begitu ya, Pak?
A: Iya.
Lagipula nggak pernah sampai bikin macet. Kecuali hari Jumat, Sabtu, dan
Minggu.
Q: Bagaimana
hawa di jalan Cimbuleuit ini, Pak?
A: Pas, lah.
Nggak terlalu dingin tapi nggak terlalu panas juga.
Q: Apakah
penambahan pohon di sekitar sini perlu?
A: Jelas.
Kalau seperti sekarang ini masih panas.
Q: Apa
harapan Bapak ke pemda Bandung untuk jalanan di Cimbuleuit ini?
A: Kalau
bisa sih diperlebar sekitar dua meter. Biar nggak tambah macet.
Q: Apa ada
perbedaan jalan cimbeleuyit sekarang dan lima tahun lalu, Pak?
A: Sekarang
panas. Macetnya pun jauh lebih parah. Dulu mah nggak separah ini.
Q: Menurut
Bapak, bagaimana jadinya Bandung di bawah pimpinan gubernur sekarang, Pak
Ridwan Kamil?
A: Karena
masih baru, jadi belum terlihat. Tapi sekarang lumayan lah.
Q: Menurut
Bapak, apakah Pak Ridwan Kamil punya potensi besar buat mengubah kota Bandung?
A: Iya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar